Monday, July 11, 2011

metode delphi

beberapa kali mendengar metode ini. tapi tidak tau maksutnya. dalam rangka belajar dan mengupdate ilmu, maka saya mengunggah tulisan dari blog oranng lain mengenai delphi ini. semoga bisa belajar bareng.


Pengertian Metode Delphi

Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan komunikasi melalui beberapa kuisioner yang tertuang dalam tulisan. Teknik Delphi dikembangkan pada awal tahun 1950 untuk memperoleh opini ahli. Objek dari metode ini adalah untuk memperoleh konsensus yang paling reliabel dari sebuah grup ahli. Teknik ini diterapkan di berbagai bidang, misalnya untuk teknologi peramalan, analisis kebijakan publik, inovasi pendidikan, program perencanaan dan lain – lain.
Metode Delphi dikembangkan oleh Derlkey dan asosiasinya di Rand Corporation, California pada tahun 1960-an. Metode Delphi merupakan metode yang menyelaraskan proses komunikasi komunikasi suatu grup sehingga dicapai proses yang efektif dalam mendapatkan solusi masalah yang kompleks.
Pendekatan Delphi memiliki tiga grup yang berbeda yaitu : Pembuat keputusan, staf, dan responden. Pembuat keputusan akan bertangungjawab terhadap keluaran dari kajian Delphi. Sebuah grup kerja yang terdiri dari lima sampai sembilan anggota yang tersusun atas staf dan pembuat keputusan, bertugas mengembangkan dan menganalisis semua kuisioner, evaluasi pengumpulan data dan merevisi kuisioner yang diperlukan. Grup staf dipimpin oleh kordinator yang harus memiliki pengalaman dalam desain dan mengerti metode Delphi serta mengenal problem area. Tugas staf kordinator adalah mengontrol staf dalam pengetikan. Mailing kuesioner, membagi dan proses hasil serta pernjadwalan pertemuan. Responden adalah orang yang ahli dalam masalah dan siapa saja yang setuju untuk menjawab kuisioner.
Prosedur Delphi
Prosedur Delphi mempunyai ciri – ciri yaitu :
1. Mengabaikan nama
2. Iterasi dan feedback yang terkontrol
3. Respon kelompok secara statistik (Chang, 1993)
Jumlah dari iterasi kuesioner Delphi bisa tiga sampai lima tergantung pada derajat kesesuaian dan jumlah penambahaninformasi selama berlaku. Umumnya kuesioner pertama menanyakan kepada individu untuk merespon pertanyaan dalam garis besar. Setiap subsequen kuisioner dibangun berdasarkan respon kuisioner pendahuluan. Proses akan berhenti ketika konsensus mendekati partisipan, atau ketika penggantian informasi cukup berlaku.
Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini merupakan kunci proses Delphi. Langkah ini dimulai dengan memformulasikan garis besar pertanyaan oleh pembuatan keputusan. Jika responden tidak mengerti garis besar pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterviewpembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
2. Memilih dan kontak dengan responden
Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar ; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.
3. Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.
4. Mengembangkan kuisioner dan test 1
Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.
5. Analisa kuisioner 1
Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.
6. Pengembangan kuisioner dan test 2
Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1
7. Analisa kuisioner 2
Tugas dari kelompok kerja adalah menghitung jumlah suara masing – masing bagian yang meringkas komentar yang dibuat tentang masing – masing bagian. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara.
8. Mengembangkan kuisioner dan test 3
Kuisioner 3 didesain untuk mendorong masukan proses Delphi
9. Analisis kuisioner 3
Analisa tahap ini mengikuti prosedur yang sama pada analisis kuisioner 2
10. Menyiapkan laporan akhir
Evaluasi terhadap Teknik Evaluasi Delphi
Teknik evaluasi Delphi merupakan salah satu alat dari teknik evaluasi yang digunakan dalam teknik evaluasi dengan pendekatan keputusan teoritis. Sedangkan teori keputusan teoritis adalah pendekatan yang menggunakan metode-metode diskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung-jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. Perbedaan pokok antara evaluasi teoritis keputusan di satu sisi, dan evaluasi semu dan evaluasi formal di sisi lainnya, adalah bahwa evaluasi keputusan teoritis berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari pelaku kebijakan baik yang tersembunyi atau dinyatakan. Ini berarti bahwa tujuan dan target dari para pembuat kebijakan dan administrator merupakan salah satu sumber nilai, karena semua pihak yang mempunyai andil dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan dilibatkan dalam merumuskan tujuan dan target di mana kinerja nantinya akan di ukur.
Teori Delphi ini sangat baik untuk memecahkan masalah yang bersifat general, dimana rencana kebijakan tersebut berkaitan erat dengan ahli-ahli bidang tertentu. Karena dari setiap ahli pada bidang tertentu akan dapat mengeluarkan aspirasinya yang memiliki kemampuan dari segi yang didalaminya. Selain itu, metode ini tidak memperhatikan nama dari ahli untuk mencegah pengaruh besar satu anggota terhadap anggota yang lainnya, danMasing – masing responden memiliki waktu yang cukup untuk mempertimbangkan masing – masing bagian dan jika perlu melihat informasi yang diperlukan untuk mengisi kuisioner sehingga dapat menghindari tekanan social psikologi.
Namun, teori ini juga mempunyai beberapa kekurangan yang juga harus diperhatikan yaitu waktu yang akan dihabiskan dalam mengisi kuisioner akan cukup lama, karena metode ini menggunakan pendapat para ahli yang berbeda-beda aspek maka dikhawatirkan akan merepresentasikan opini yang tidak dapat dipertahankan secara ilmiah dan cenderung berpikir hanya dari aspek yang terbaik baginya.

Strategi Kemitraan untuk Kesenian


Post by Linda Hoemar on Feb 7, 2007, 11:29am

Kehidupan kesenian dan kebudayaan yang sehat adalah faktor yang bisa mempertahankan bahkan meningkatkan perkembangan kegiatan ekonomi. Dari Singapura, kita mendapat penegasan bahwa nilai tambah dari industri yang berbasis kegiatan seni budaya memperlihatkan angka efek pelipatgandaan sebesar 1,66: lebih tinggi dari industri perbankan (1,4) atau industri petrokimia (1,35).

Tulisan ini mengangkat beberapa contoh kemitraan untuk mendukung kesenian yang sudah diterapkan di negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Jerman. Ada dua pola dasar strategi kemitraan untuk kesenian: melalui subsidi pemerintah dan mekanisme subsidi tak langsung. Contoh strategi yang sangat unik diterapkan di AS yang anggaran dana pemerintahnya untuk kesenian sangat minim. Pemerintah AS secara tak langsung memberi subsidi yang luar biasa besarnya melalui sistem pajak yang mendorong sektor swasta berperan giat mendanai kesenian.

Singapura merupakan contoh negara yang pemerintahnya tak tanggung-tanggung menyubsidi kesenian. Di Jerman kewenangan dan tanggung jawab untuk kebijakan kebudayaan dan implementasinya ada pada tiap-tiap pemerintah daerah atau kota. Prinsip kompetisi merupakan pendorong bagi semua kegiatan seni budaya di Jerman untuk bersaing secara sehat sehingga bagian terbesar anggaran dana kesenian di Jerman berasal dari tiap-tiap pemerintah daerah sebuah contoh sukses kemandirian otonomi daerah.

Kita ketahui bahwa sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu aset besar sebuah negara. Dalam dunia kesenian, SDM merupakan satu-satunya aset. Kesadaran Singapura akan potensi SDM selangkah lebih maju: sumber daya terbesar sebuah negara adalah daya kreatif warganya. Pemerintah Singapura bahkan memiliki rumus khusus untuk mencapai visinya menjadi negara pusat budaya:

A+B+T = CC

atau

Art+Business+Technology = (Creative+Connected) Singapore.

Kelompok kreatif yang terdiri dari SDM di bidang teknologi (technological creativity), ekonomi (economic creativity), dan seni budaya (cultural creativity) saling berkait dan pegang peran kunci dalam perwujudan perekonomian berdasarkan kreativitas.

Penguatan kelompok kreatif melalui, antara lain, sistem pendidikan seni terpadu di sekolah- sekolah di Singapura diyakini mampu membangun keterampilan yang dibutuhkan SDM, seperti berpikir kreatif untuk memecahkan masalah, toleransi, mampu bekerja sama dalam tim, motivasi, dan rasa percaya diri. Oleh karena itu, upaya-upaya penguatan sektor seni budaya melalui kelompok kreatif (seni budaya, desain, dan media) di Singapura merupakan investasi total pihak Pemerintah Singapura demi berdaya saing secara global dan mengangkat Singapura sebagai pusat budaya regional Asia.

Tidak terelakkan, di lembaga kesenian yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah kebanyakan pekerja seni yang berwenang adalah pegawai negeri sipil. Hal ini cenderung menumbuhkan perkubuan: kelompok seni kubu orang dalam dan kubu orang luar. Hasilnya, sering kali kelompok seni yang termasuk kubu orang dalam dapat subsidi, sedangkan kelompok seni dari kubu luar condong terpinggirkan. Itu sebabnya, sistem yang diterapkan di AS menarik untuk dipelajari karena peran pemerintah diimbangi dengan keberadaan begitu banyak lembaga nirlaba atau yayasan untuk seni yang independen. Terlebih lagi, ada insentif pajak yang mendorong keterlibatan masyarakat dan sektor swasta menyumbang demi kebaikan dan peningkatan mutu hidup warga sendiri.

Untuk kepentingan pemerintah, perusahaan, dan donatur perorangan, di negara-negara seperti AS dan Singapura, seperti sudah disampaikan di awal, sering dilakukan studi tentang dampak perekonomian untuk mengukur berapa besar kontribusi kegiatan kesenian dalam perekonomian sebuah daerah. Hasil studi itu berguna meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan akan peran kunci sektor kesenian selain menghadirkan keindahan dan memicu kreativitas yang menghasilkan penemu dan pencipta karya tidak hanya seni tapi juga teknologi dan ekonomi, juga menciptakan banyak sekali lapangan kerja yang secara langsung berkontribusi pada perekonomian. Data kuantitatif tersebut mendukung strategi kemitraan untuk kesenian melalui mekanisme perpajakan.

Watak kesponsoran

Tidak adanya insentif khusus berupa keringanan pajak bagi perusahaan ataupun perorangan yang menyumbangkan sejumlah dana bagi organisasi-organisasi kesenian mengakibatkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesenian di Indonesia. Yang lazim terjadi di Indonesia adalah praktik kesponsoran untuk kesenian di mana perusahaan menyumbangkan sejumlah dana sebagai bagian dari strategi pemasaran produk. Misalnya, logo suatu perusahaan dilihat oleh 1.000 penonton saat pertunjukan. Contoh lain, perusahaan melihat peluang promosi sambil memberi bantuan kepada kelompok seni yang akan mengadakan pertunjukan/pameran berupa sumbangan tidak berupa dana: membantu pencetakan poster, undangan, katalog, atau buku program. Jadi, yang diberikan bukan sumbangan dana yang sifatnya filantropis yang tanpa pamrih.

Keterlibatan perusahaan di Indonesia masih terbatas pada penyelesaian masalah sesaat. Menurut penelitian PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Program), 80 persen kegiatan sosial perusahaan di Indonesia bersifat insidental dan sarat muatan promosi. Bahkan, ada kasus komersialisasi kegiatan sosial, misalnya dalam hal jumlah biaya promosi kegiatan jauh lebih besar daripada jumlah bantuan dana yang diberikan. Kebanyakan sumbangan dana sponsor untuk kesenian di Indonesia cenderung bersifat jangka pendek, bukan sebagai peluang kemitraan yang berkelanjutan (berjangka panjang) demi mencapai kepentingan bersama.

Salah satu perbedaan yang jelas terasa adalah penjualan tiket kegiatan kesenian atau pertunjukan. Di luar negeri, tiket tidak d**enai pajak. Di Indonesia, khususnya Jakarta (kecuali di Gedung Kesenian Jakarta dan Graha Bhakti Budaya-TIM), penjualan tiket d**enai pajak tontonan. Sebagai perbandingan, baru-baru ini sebuah koalisi organisasi nirlaba seni di kota New York, Alliance for the Arts, menerbitkan laporan tentang studi penonton di tempat-tempat kegiatan seni budaya yang diadakan pada tahun 2004. Dari 480 organisasi seni nirlaba yang dilibatkan dalam studi itu, 138 yang merespons—mewakili galeri, museum, gedung pertunjukan, tempat pertunjukan alternatif, kelompok seni pertunjukan tradisi maupun kontemporer, sekolah tinggi seni, dan penyelenggara festival seni.

Dalam studi tersebut ditemukan: jumlah penonton acara seni budaya di kota New York mencapai 26 juta orang, yang berarti dua kali lebih banyak daripada penonton teater Broadway ataupun pertandingan olahraga. Temuan ini merupakan argumen yang sangat kuat untuk meyakinkan pemerintah dan swasta akan peran penting kesenian dalam kehidupan masyarakat sebuah kota. Temuan tersebut juga memberi gambaran betapa besar dukungan masyarakat untuk kesenian dengan cara sangat sederhana: datang sebagai penonton. Bahwa tempat- tempat kegiatan seni budaya menarik minat begitu banyak penonton mencerminkan sukses dari tujuan tiap organisasi seni budaya memberi nilai tambah dalam kehidupan masyarakat, memberi pencerahan dalam pendidikan anak-anak, dan menarik pengunjung dan wisatawan ke kota tersebut.

Pengurangan pajak

Di AS praktik pemenuhan kebutuhan masyarakat yang mencakup setiap jenis layanan publik dijalankan oleh sektor nirlaba, seperti universitas, rumah sakit, perpustakaan, museum, lembaga pendidikan, organisasi sosial dan seni budaya. Kenyataan itu mencerminkan keyakinan nasional (AS) dalam falsafah mereka tentang pluralisme dan betapa pentingnya prakarsa individu dalam masyarakat. Pengaturan sektor nirlaba ini dilakukan di bawah pengawasan badan perpajakan pemerintah yang berwenang memberi status bebas pajak bagi organisasi yang memenuhi kriteria klasifikasi sebagai organisasi nirlaba yang tak hanya bebas pajak, tapi juga sumbangan pada organisasi-organisasi ini dapat diperhitungkan dalam pengurangan pajak.

Misalkan, perusahaan A menyumbangkan dana sejumlah x kepada sebuah organisasi nirlaba kesenian. Maka, pada akhir tahun, perusahaan A berhak mendapat pengurangan pajak. Besar pajak yang dibayarnya y%-x di mana y% adalah pajak yang mesti dibayarnya kalau ia tidak memberi sumbangan untuk kegiatan kesenian. Jadi, untuk berkurangnya setoran pajak ke Departemen Keuangan AS sebesar satu dollar, sektor nirlaba memperoleh tambahan dana langsung dan tidak langsung sebesar antara 90 sen dan 1,40 dollar. Angka ini menunjukkan betapa insentif pajak di AS begitu berperan memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakatnya.

Bagi kelompok seni AS yang menginginkan status bebas pajak, kriteria kualifikasi, peraturan, prosedur pengajuan, dan petunjuk pengisian formulir pengajuan sangat mudah diakses. Ini sebuah contoh transparansi dalam tata laksana organisasi pemerintah. Proses pengajuan ini disentralisasi pada sebuah badan perpajakan Pemerintah AS bernama Internal Revenue Service (IRS) tanpa membedakan jenis dan tujuan organisasi yang mengajukan permintaan. Hanya IRS yang berwenang mengadakan regulasi, akreditasi, dan perizinan, serta menyelenggarakan pengawasan pelaksanaan sektor nirlaba. Birokrasinya tidak rumit.

Sistem ini penting dicatat karena beda dengan praktik di negara lain. Terbanyak terjadi di negara lain: organisasi yang mengajukan permintaan disyaratkan mendekati satu atau lebih kementerian sesuai dengan bidangnya (misalnya kesehatan, pendidikan, lingkungan) untuk mendapatkan status nirlaba bebas pajak. Di Amerika Serikat, organisasi yang mengajukan status bebas pajak tidak perlu mendatangi Departemen Keuangan untuk mendapatkan persetujuan. Selain itu, pejabat pemerintah di AS tak berwenang campur tangan dalam tata laksana lembaga nirlaba atau seperti membubarkan atau menyerahkan asetnya.

Semangat otonomi

Mekanisme kemitraan untuk kesenian yang diterapkan di Jerman lain lagi. Dengan semboyan Keberagaman dalam Kesatuan, Jerman mengandalkan otonomi pemerintah daerah dan pemerintah daerah khusus kota. Keberagaman berarti tidak ada satu lembaga pusat yang mengoordinasikan kegiatan seni budaya. Hal ini justru mendorong kompetisi sehat antardaerah atau antarkota. Tiap daerah atau kota berlomba dalam aspek kreatif, artistik, dan keuangannya. Kesatuan berarti adanya sebuah jejaring kemitraan informal antara kota, daerah, dan Pemerintah Jerman untuk saling berbagi informasi, saling memperkuat program seni budaya masing- masing. Keberhasilan program seni budaya di tiap daerah atau kota bergantung pada komitmen dan kreativitas departemen kebudayaan tiap pemerintah daerah dan peran aktif masyarakatnya.

Sebagai contoh adalah kota kecil di Jerman, Bayreuth, yang jumlah penduduknya sangat sedikit. Tiap tahun Bayreuth menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri karena Festival Musik Wagner. Kemudian ada juga festival film di Berlin yang mendatangkan pemasukan luar biasa buat perekonomian kota Berlin karena dibanjiri pengunjung dan selebriti internasional. Di Jerman sebuah orkes bisa mendapat subsidi sebesar 80 persen. Bandingkan dengan Pemerintah AS yang hanya memberi subsidi 5 persen bagi segelintir orkes.

Tawaran langkah

Apa yang bisa kita bangun bersama agar terwujud sebuah sistem kemitraan untuk kesenian di Indonesia?

Pertama, perlu ada kesadaran pihak-pihak berkepentingan akan perlunya komitmen memperkuat kesenian Indonesia. Langkah berikutnya, perlu ada pemetaan kebutuhan baik yang bersifat jangka pendek, menengah, maupun panjang yang melibatkan unsur pemerintah, sektor swasta, organisasi nirlaba atau yayasan untuk seni, seniman, dan pekerja seni. Kemudian penting dibangun sebuah jejaring antara pekerja seni dan pelaku seni, entah tingkat kota entah tingkat daerah, yang saling berbagi informasi dan bersinergi sehingga fragmentasi, dan kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri dalam sektor kesenian tidak terjadi. Juga, komunitas kesenian yang bersinergi dengan jejaring di luar sektor kesenian yang memprakarsai penguatan filantropi sebagai bagian dari upaya memperkuat masyarakat sipil melalui penguatan infrastruktur, kapasitas kelembagaan, serta ruang gerak bagi sektor nirlaba dan kegiatan filantropi di Indonesia.

Ada baiknya juga membangun kemitraan untuk meneliti dampak ekonomi demi mengukur kontribusi sektor kesenian kepada perekonomian. Hasil studi ini penting untuk meraih komitmen pemerintah demi terwujudnya sebuah kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan tiap unsur masyarakat di Indonesia.

Tantangan berikutnya adalah menemukan sistem yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia, entah menerapkan salah satu model di negeri yang berhasil entah memadukan model dari beberapa negeri yang berhasil setelah menyesuaikannya dengan keadaan lingkungan dan tabiat orang Indonesia. Potensi filantropi masyarakat Indonesia sangatlah besar. Dari penelitian PIRAC, pada tahun 2001 terkumpul dana lebih dari Rp 115 miliar dari 180 perusahaan bagi 279 kegiatan sosial yang terekam di media massa dan sekitar Rp 1 triliun sumbangan perorangan. Namun, di balik potensi tersebut, masih juga ada penyaluran dana yang tak sampai di tujuan. Adalah tanggung jawab dan kepentingan sektor nirlaba, dalam hal ini dunia kesenian, meraih dan menjaga kepercayaan publik melalui pengelolaan keuangan yang transparan dan bertanggung jawab.

Dalam upaya menemukan strategi kemitraan yang terbaik dan cocok diterapkan di Indonesia, masyarakat seni budaya dituntut memiliki komitmen terhadap akuntabilitas, integritas, dan penghargaan atas keunggulan artistik. Dengan semakin banyak informasi mengenai sektor kesenian dan masyarakat makin terdidik akan peran dan nilai kesenian, diharapkan tercipta sebuah sistem kemitraan yang strategis atas dasar kesetaraan untuk penguatan kesenian di Indonesia sebagai kepentingan bersama.

Dari segi kelimpahan khazanah seni budaya, luas wilayah, dan jumlah penduduk, Indonesia jauh lebih besar dari Malaysia dan Singapura yang digabung jadi satu. Visi seni budayanya? Masing-masing dari Malaysia dan Singapura jauh lebih maju. Ketimpangan itu agaknya bukan karena negara tetangga berkembang terlalu pesat, tetapi justru karena Indonesia yang menolak tumbuh sehat dan terus-menerus menelantarkan potensinya sendiri. Pengakuan atas ketimpangan visi seni budaya dapat menjadi pendorong bagi Indonesia mengejar ketertinggalan yang ia ciptakan sendiri.

Linda Hoemar Abidin Pekerja Seni, Pengajar Manajemen Seni Pertunjukan

Sunday, July 10, 2011

aku

baru sadar, apa sebenarnya yang kusukai??
aku menyukai kesunyian.. dimana aku akan berhadapan denganmu, denganmu, denganmu, denganmu dengan cara yang berbeda. dimana dalam kesunyian aku tak pernah kesepian.

dan ternyata kesunyian membutuhkan banyak uang.
itu sebabnya aku harus melakukan apapun untuk mendapatkan uang. agar aku bisa menikmati kesunyianku.

tak jarang, untuk sebuah kesunyian aku ingin ke sebuah tempat yang jauh. atau bertemu dengan keramaian.
ditengah pasar yang hiruk pikuk, atau di tepi pantai yang cukup sepi dan cukup jauh. atau bahkan bersetubuh denganmu..
aku mencintai kesunyian. aku bisa kembali menjadi diriku. dan ternyata menjadi diri sendiri itu susah, jika kau berhadapan dengan orang lain. dan dituntut untuk bekerjasama atas nama kebersamaan dan kewajaran yang hanya berdasarkan angka. wajar = dilihat dari kacamata banyak orang. belum lagi soal kesunyian yang mahal harganya. jika mahal ini berkaitan dengan uang maka kau tak akan pernah menjadi diri sendiri.

(asline aku ngomong opo sech????!!!)

Saturday, July 02, 2011

donat kentang (teman minum teh jahe)

http://lemariresep.blogspot.com/2007/09/donat-kentang.html

Resep : Fatmah Bahalwan

Bahan:
500 gr tepung terigu protein tinggi
50 gr susu bubuk
11 gr ragi instant
200 gr kentang, kukus, haluskan
100 gr gula psir
75 gr mentega
½ sdt garam
4 btr kuning telur
100 ml air dingin

Cara membuatnya:


  1. Dalam wadah, campur tepung terigu, gula, susu bubuk, ragi instant, aduk rata, masukkan kentang halus dan kuning telur, uleni hingga rata dan setengah kalis.
  2. Beri mentega dan garam, uleni terus hingga kalis elastis. Istirahatkan 15 menit.
  3. Bagi adonan, masing-masing 50 gr, bulatkan. Diamkan 20 menit, hingga mengembang.
  4. Lubangi tengahnya, menjadi bentuk donat, segera goreng sampai kuning kecoklatan.
  5. Angkat, tiriskan. Taburi gula donat, atau hias dengan coklat.