Thursday, January 07, 2010

keperawanan (basi)


Seberapa penting nilai keperawanan bagi seseorang? Bagi laki-laki dan bagi perempuan. Di Indonesia tentunya. Barangkali masih bisa dikerucutkan lagi, di Surabaya. Tadi sempat mengobrol dengan seorang teman yang melakukan tanya jawab sekedar iseng dengan beberapa orang teman dia yang berjenis kelamin laki-laki. Temanku ini adalah seorang laki-laki. Dia mengajukan pertanyaan ini pada laki-laki dengan berbagai macam bacground pendidikannya. Mulai dengan tukang becak, sampai teman kuliah dia. Dia bertanya tentang apakah ‘keperawanan merupakan hal yang penting?’. Jumlah informan yang dia ambil adalah 19 orang. Sekali lagi ini hanya interview ala kadarnya, tanpa memperhatikan aturan main dari sebuah penelitian.

Dari 19 orang yang dia tanya, hanya 2 orang yang menganggap bahwa keperawanan bukanlah hal penting. Dan ternyata dari dua orang itu, salah satunya adalah dia (hehehehe..). Ada jawaban yang menarik dari salah satu informan yang diwawancarainya, yaitu ‘keperawanan itu sangat penting. Kenapa? Karena itu sebuah kehormatan perempuan. Perempuan tidaklah bisa disebut sebagai perempuan jika dia tidak mampu menjaga keperawanannya. Dan sebuah kehormatan bagi laki-laki dan keluarganya untuk mendapatkan seorang pacar dan atau calon istri yang masih perawan.’

Barangkali bukan masalah apakah perempuan dituntut untuk tetap perawan sebelum dia menikah, jika laki-laki juga bisa dituntut untuk tetap perjaka sebelum dia menikah. Tapi tolak ukurnya dimana? (medicaly), karena sejauh yang kita bersama ketahui bahwa laki-laki tak punya selaput dara yang menjadi tolak ukur keperawanan layaknya perempuan. Kita juga tak mungkin memakai argumen bahwa cepatnya laki-laki mencapai klimaks pada saat pertama kali mereka berhubungan badan, bukan?? Meskipun katanya seperti itu (tak ada ungkapan fakta empiris). Karena ejakulasi dini juga bisa dialami oleh lelaki yang sudah beberapa kali (sering) melakukan hubungan badan. Bahkan pertama kali melakukan hubungan badanpun, bisa jadi lama (weks..). Sekarang apa tolak ukur bagi keperjakaan seorang lelaki? Dengkulnya udah keropos barangkali? (emang osteoporosis?? Weks..).

Jadi ingat kasus seorang teman perempuan (saya tau teman ini perawan dalam artian medik, itu juga menurut dia). Suatu saat dia pernah makan di sebuah warung makan. Saat itu dia makan sendirian, tiba-tiba muncullah sekelompok remaja, anak kuliahan (ada laki-laki dan ada perempuan). Entah mereka membahas apa.. yang jelas kemudian, temanku mendengar sedikit pembicaraan kelompok itu. Mereka membahas teman mereka yang putus nyambung dengan pacarnya. Salah seorang dari kelompok itu mengatakan dengan cukup keras sampai terdengar di telinga temanku ini. ‘kenapa sih si A mau dengan si B, si B khan dah ga perawan. Bodoh si A itu…’ spontan temanku yang mendengar langsung terhenyak. Berhenti makan, kemudian membayar makanannya dan pergi. Sebenarnya dia ingin menghampiri kelompok mahasiswa tersebut, dan siap berperang dengan mereka, tapi berhubung itu di warung, dan sejauh yang dia pahami obrolan mereka bukanlah urusan dia. Tapi dasar temanku itu yang tak dapat melawan rasa tidak sepakatnya dengan pernyataan yang dilontarkan oleh salah seorang dari kelompok tersebut maka itu tindakan yang dipilihnya. Pergi.

Setelah pergi dari situ, temanku dengan sangat emosi datanglah menemuiku. Yah.. rupanya aku memang selalu tepat dijadikan sasaran emosi dan sasaran masalah. Pawaan masalah jarene emakku.. Dengan nada yang masih emosi, dia mengungkapkan apa yang dialaminya ketika makan malam tadi. Dan masih dengan emosi juga, ‘ Sekarang gini deh, Mak… apa sih tolak ukur perawan dan bukan? Selaput darah atau otak? Mana ada sih yang masih perawan jaman segini? Kalo bukan diperawani oleh kelamin, maka pasti jaman udah memerawani dia.’ Huahahaha.. aku suka kata-kata dia saat itu.
Sebenarnya ini adalah isu basi… jadi muncul kembali karena akhir-akhir ini aku menghadapi persalahan ini di sekitarku. Jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu.

Tulisan ini masih ada terusannya… wekekekek… apapun yang anda pilih dan lakukan berkaitan dengan anda sebagai pribadi, haruslah sadar betul akan resiko dan tetek bengeknya termasuk dengan konsensus sosial. dan tentu saja anda harus bisa mempertanggungjawabkan pilihan anda tersebut... piss..

No comments: