Sunday, December 27, 2009

Kisah Kanjeng Ratu Kidul (Dewi Srengenge)


Kisah Kanjeng Ratu Kidul (Dewi Srengenge)

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. "Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku", kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. "Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya." Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. "Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri," kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.


Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengantar bagi tulisan selanjutnya.




versi buku bahasa indonesia jaman SD

Suatu ketika pada masa Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran, ia memiliki seorang permaisuri cantik dan sejumlah 7 selir. Suatu ketika sang permaisuri melahirkan anak perempuan cantik pula, bahkan melebihi kecantikan ibundanya. Ia dinamai Putri Lara Kadita yang berarti Putri Nan Cantik Jelita.

Kebaikan hati dan kecantikan Putri Kadita menimbulkan rasa iri para selir yang takut tersisih dari hadapan Prabu Siliwangi.

Mereka bersekongkol menghancurkan kehidupan Putri Lara Kadita dan ibunya. Keduanya diguna-guna hingga menderita sakit kulit yang parah di sekujur tubuhnya. Di bawah pengaruh guna-guna para selir, Prabu Siliwangi pun mengusir keduanya dari keraton karena dikhawatirkan mereka akan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan.

Dalam kondisi ini, Putri Lara Kadita dan ibunya pergi tanpa tujuan. Diceritakan, sang permaisuri tewas dalam pengembaraan, sedangkan Putri Lara Kadita terus berjalan menuju selatan sampai akhirnya tiba di sebuah bukit terjal di Pantai Karanghawu. Karena amat kelelahan, Putri Lara Kadita istirahat kemudian tertidur pulas.

Dalam tidur ia bermimpi bertemu dengan "orang suci" yang memberi nasihat agar sang putri menyucikan diri dengan terjun ke laut untuk mendapatkan kesembuhan, mengembalikan kecantikannya, sekaligus memperoleh kekuatan gaib untuk membalas penderitaan yang dia alami.

Ketika terbangun, tanpa ragu Putri Lara Kadita melompat dari tebing curam ke tengah gulungan ombak, dan tenggelam ke dasar Laut Selatan. Mimpinya pun menjadi kenyataan. Selain sembuh dan kembali cantik, ia juga beroleh kekuatan gaib serta keabadian. Namun, sang putri harus tetap tinggal di Laut Selatan.

Sejak itu ia disebut sebagai Nyi Loro Kidul (yang artinya loro = derita, kidul = selatan), atau sang Ratu Penguasa Laut Selatan.

Sunday, December 13, 2009

Cerito Khayal: Lobang


Sakri ambek Nasip mlaku budhal mancing. Moro-moro Nasip ndhelok onok lobang guedhe.
”Eh ayok dites jerune sak piro se lobang iki” jare Nasip.
Sakri njupuk watu kali terus diuncalno ndhik lobang mau. Sui gak onok suorone blas... ”Whuik jerune...,” jare Sakri
”Watune kurang gedhe be’e, cobak kelopo” jare Nasip. Sakri njupuk kelopo terus diuncalno maneh ndhik lobang. Sepiii gak onok suorone....
”Whuik jerune...,” jare Sakri
”Sik golek sing luwih gedhe maneh,” jare Nasip.
Mari golek-golek, arek loro iku akhire nemu beton bekas bantalane rel sepur. Berhubung abhot, betone digotong wong loro terus disurung mlebu lobang. Tapi yo ngono, suiii gak onok suorone...
”Cik jerune lobang iki..” jare Sakri
Moro-moro seko semak-semak, onok wedhus mlayu katene nubruk arek loro. Selamete arek loro iku isok ngelesi, tapi sakno wedhuse sing kecemplung lobang.
Kagete jik durung ilang, moro-moro onok Wak Dri nggowo arit takok nang arek loro iku.
”He rek, kon ndhelok sing nyolong wedhusku tah ? Tak bacoke wonge !!!”, takok Wak Dri.
”Wah gak ngerti Wak Dri, cumak sik tas ae onok wedhus kecemplung lobang iku” jare Nasip.
”Oo gak mungkin.. dhudhuk wedhusku lek sing iku, wedhusku mau tak cancang ndhik betone rel sepur ”

Saturday, December 12, 2009

Daffodeelia


Daffodeelia was a pretty little fairy,who was as pretty as the prettiest wildflower. Her hair was golden in color and her eyes were the deepest blue. She was always very happy and lively, and her smile was lovelier than a rainbow. Wherever she went, her merry laugh could be heard.

Daffodeelia's favourite hobby was painting flowers. She had a lovely little paint bucket and a magical paint brush. When she dipped the brush into the paint bucket and touched the flowers with just the tip of it, they glowed with wonderful colors. She enjoyed painting flowers very much. When night fell and everybody went to sleep, she would fly around the sky with her paint bucket and wonder-brush. She visited all the gardens and painted the flowers . She liked it so much that she spent the whole night painting flowers.

The flowers sat up and waited impatiently, until Daffodeelia came, to dress them up in rainbow colors. She flew all around the flower gardens, painting the flowers quickly, before daybreak. No one else knew that it was she, who painted them during the night. Only the flowers, themselves, knew the secret. When the sun rose, the flowers woke up and smiled in multi-colored beauty.

One day, as she was flying around, hurriedly painting the wildflowers, in the middle of a forest she came upon a garden with not a single flower in it. The whole garden looked very pale and gloomy and there was a little odd-looking hut in the middle. Since there were no flowers to paint, in the garden, she flew away. But as she was passing over the garden's boundary, she heard someone sobbing.
"Who's crying?"

Daffodeelia looked around to see who it was. But, there was no one to be seen. She heard it again. It had to have come from the pale garden, she thought. But it looked abandoned and not a flower was in sight. A huge fence made with thorny sticks went all the way around the garden. Daffodeelia peeped through the fence, to see who was so unhappy.
"Oh, no! Please Daffodeelia, don't go in," the wildflowers shouted, all at once.
"Why? Why shouldn't I go in?" Daffodeelia asked.
"Daffodeelia, that garden belongs to a witch. She doesn't like any flowers in her garden. And she doesn't let anyone enter. Not even a single little bee is allowed in. If she sees you, you'll be in big trouble!" the wildflowers cried. The lubbering sound, which had quit, started again when the flowers spoke up.
"Oh no, someone is crying. I must go and see what I can do." Daffodeelia peeped through the fence once more.
"Oh, there you are!"
She could finally see it was a tiny little flower, who was crying underneath a bush. The flower looked pale and fragile. She cried so much that Daffodeelia couldn't bear it.
"Little flower, why are you crying?" she asked, gently.
The little flower lifted her head and looked at Daffodeelia, with tear-filled eyes.
"I feel very lonely. No one comes to keep me company, because I am so pale and ugly. The bees and butterflies visit all the other flowers, but do not come to me, because I'm not pretty. I don't have any color at all!" The little pale flower sobbed and sobbed. Daffodeelia felt sorry for her.

"Oh, don't cry, little flower. I'll give you beautiful colors. Then, you also will be pretty, like the others. And the bees and butterflies will come to you too," she said. Just as she was about to creep under the fence, to go to the little flower, all the wildflowers shouted again.
"Oh, no, Daffodeelia... don't go in! The witch hates flowers and colors. That's why that plain little flower is hiding under the bush. If you go in, you'll get caught by the witch."
"But, please…I want to help that poor flower. She is so sad. I want to give color to her and make her happy," Daffodeelia said.

"Well, then, you wait here until I go and see whether the witch is still sleeping," said one hummingbird, who had been watching from a branch.He flew towards the witch's hut at once and came back tweeting.
"Hurry up! Hurry up! The witch is still sleeping. Go in and paint the flower before she wakes up," said the bird. Daffodeelia was very happy. She crept through the fence, into the witch's garden and went to the pale, little flower.
“Daffodeelia, be careful…be careful!" the flowers and the butterflies shouted, as she went in.

The pale flower was very happy. Her face was flushed with happiness. Daffodeelia knelt down beside her and started to paint. She had barely touched the flower, when she was pulled to her feet by someone.
"Oh, noooo!" she cried. It was the witch of the pale garden. She had woken up and come to see what was going on. "What are you doing over here?" the witch growled.
"I…...I…...I just came to paint this little flower," Daffodeelia stammered, in fear.

"What? To paint a flower? I'll paint you instead!" The witch held her by the wings and pushed her right down on top of the little flower. And then she grabbed Daffodeelia's bucket and poured all the paint onto her head.
"Oh, noooo! Please..."

The paint dripped down her head. The strands of her golden hair were streaked with paint. And when she shook her head, little driblets of paint sprinkled all over. Just then, an amazing thing happened. The little driblets that had splashed onto the ground from her hair, popped up magically, as lovely little golden flowers. The whole garden was soon covered with them. Some of the driblets that had landed on the witch's nose, also popped up as golden flowers.

The witch, who hated flowers, got very angry. Her cottage also was covered with the golden flowers. She couldn't stop the flowers from blooming. She couldn't bear their lovely fragrance, either. She plopped the paint bucket on Daffodeelia's head and went away, angrily. Bees and butterflies fluttered all around her. She waved her hands, trying to beat them away, but she couldn't. The flowers were blooming all
over the place and the whole garden turned golden, with the magical flowers. The witch couldn't bear it any more, so she packed up her things and left to go to a new forest, far away, kicking at the flowers angrily, as she went.

The sun was rising in the eastern sky. The little golden flowers danced merrily. And the little flower, no longer pale, also laughed merrily, glowing in golden color. The morning breeze refreshed them and took their lovely fragrance all across the forest. Daffodeelia was very happy. She laughed and flitted among the flowers, singing happily.

The flowers, bees, and butterflies sang along with her. When the sun had risen, she left to go back to fairyland. The golden flowers waved to her, as she flew away. They looked so beautiful in the sunlight, just like Daffodeelia. Thereafter, the lovely golden flowers were called "daffodils." That's how daffodils came into this world.

Friday, December 11, 2009

inisiasi menyusu dini


INISIASI Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).

Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.

Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan ‘penyelamatan kehidupan’, karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22 persen dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan. “Menyusui satu jam pertama kehidupan yang diawali dengan kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia, dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas,“ ujar Ibu Negara pada suatu kesempatan.

Tahap-tahap dalam Inisiasi Menyusu Dini

1. Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi/tidak menggunakan obat kimiawi. Jika ibu menggunakan obat kimiawi terlalu banyak, dikhawatirkan akan terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan menyusu dalam proses inisiasi menyusu dini.
2. Para petugas kesehatan yang membantu Ibu menjalani proses melahirkan, akan melakukan kegiatan penanganan kelahiran seperti biasanya. Begitu pula jika ibu harus menjalani operasi caesar.
3. Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan kulit bayi.
4. Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
5. Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
6. Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
7. Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.
8. Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K dan tetes mata.
9. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat-gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.

Manfaat Kontak Kulit Bayi ke Kulit Ibu

1. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat. Kulit ibu akan menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan risiko kematian karena hypothermia (kedinginan).
2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
3. Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di ASI ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
4. Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting untuk pertumbuhan usus. Usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda, tidak siap untuk mengolah asupan makanan.
5. Antibodi dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga menjamin kelangsungan hidup sang bayi.
6. Bayi memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan protein manusia (misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus bayi.
7. Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan.
8. Sentuhan, kuluman/emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnyaoksitosin yang penting karena:

* Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan ibu.
* Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
* Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang berwarna putih) dapat lebih cepat keluar.

Bawang Merah dan Bawang Putih


Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.
Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya.
Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Tuesday, December 08, 2009

Cerita Rakyat Tanpa Rakyat?

Bandung Mawardi
Jawa kerap diungkapkan para ahli sejarah dan ilmu-ilmu sosial dengan perspektif-perspektif ilmiah. Perspektif itu mengacu pada fakta dan penafsiran sesuai dengan prosedur berpikir ilmiah. Pengungkapan sejarah Jawa yang didominasi dengan pendekatan ilmiah yang memperhitungankan validitas sering meminggirkan sumber lain yakni cerita rakyat. Dominasi pemikiran ilmiah membuat cerita rakyat menjadi anak tiri untuk membaca sejarah?
Kuntowijoyo (2003) mengungkapkan bahwa peranan tradisi lisan dalam ilmu sejarah dan antropologi adalah sebagai sumber sejarah yang merekam masa lalu. Kesejarahan tradisi lisan merupakan sebagian dari isi tradisi lisan. Tradisi lisan itu mengungkapkan kejadian atau peristiwa yang mengandung nilai-nilai moral, keagamaan, adat-istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian, dan mantra. Penjelasan dari Kuntowijoyo itu mengisyaratkan bahwa sumber dari folklor itu tak mungkin diabaikan atau ditinggalkan dalam mengungkap sejarah.
Tradisi lisan memiliki kemungkinan menjadi rujukan penting untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah. Jawa memiliki riwayat panjang yang belum bisa diungkapkan dengan utuh dan komprehensif oleh ahli sejarah dan ilmu sosial. Keberadaan cerita rakyat tentu bisa dinilai dengan kepentingan-kepentingan untuk rekonstruksi sejarah. Cerita-cerita rakyat itu mungkin cenderung dianggap sebagai sumber semi-ilmiah yang belum tergarap dengan analitis dan kritis dalam tradisi studi ilmiah.
Cerita rakyat atau dalam pengertian besar folklor dijelaskan William R. Bascom (Danandjaja, 1984) dalam tiga golongan besar: mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh empu ceritanya. Legenda alam gaib adalah kisah yang bersifat kolektif dan dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi yang melukiskan kebenaran, pelajaran moral, atau sindiran.
Posisi cerita rakyat untuk acuan merekonstruksi sejarah jarang dijadikan sebagai sumber primer dengan alasan-alasan rasionalitas sejarah. Cerita rakyat pada dasarnya memiliki suatu kekuatan yang membuat publik pemilik cerita rakyat berada dalam konstruksi dunia dan kehidupan yang unik dan otentik dalam latar sosial-kultural setempat. Tradisi lisan pada saat ini menghadapi tantangan dalam budaya teks dan budaya audio visual yang modern dan canggih. Tantangan itu menjadi peringatan untuk melakukan inovasi dan kreasi terhadap cerita rakyat.
Cerita rakyat yang lahir dan tumbuh di Jawa pada saat ini mungkin belum bernasib baik dengan pelbagai alasan dan kondisi. Cerita-cerita rakyat sekadar eksis dalam kelompok-kelompok kecil yang masih sanggup untuk menuturkan atau mengisahkan dalam bentuk lisan. Eksistensi cerita rakyat pun mulai menemukan peralihan bentuk dalam tulisan (buku) dengan pemakluman ada resepsi dan apresiasi berbeda ketimbang ketika dilisankan. Argumentasi dari perlaihan bentuk itu adalah buku bisa menjadi alat dokumentasi sebelum cerita rakyat kehilangan rakyat penutur-pendengar. Kehadiran buku-buku cerita rakyat mungkin jadi alternatif untuk transformasi pengetahuan historis dan sosial-kultural dalam masyarakat.
Cerita rakyat yang semula tumbuh dalam tradisi lisan memiliki ruang dan kepemilikan kolektif. Perubahan zaman menyebabkan kepemilikan kolektif semakin berkurang dan mengecil karena ekspansi cerita-cerita modern. Anak-anak dalam tataran masyarakat modern justru menunjukkan ketertarikan kuat dan cenderung akrab dengan cerita-cerita modern dalam bentuk komik atau film. Cerita rakyat yang dulu lahir dan tumbuh dalam masyarakat sendiri perlahan hilang atau dilupakan karena tak ada pola pewarisan yang efektif dan kreatif.
Pola kreatif yang terasa kurang adalah perhatian dari orang tua untuk mendongeng atau bercerita pada anak. Kelemahan untuk apresiasi cerita rakyat juga muncul di institusi pendidikan yang memainkan fungsi strategis dalam transformasi ilmu dan pengetahuan. Siswa di sekolah atau mahasiswa kurang apresiatif terhadap cerita rakyat karena pelbagai alasan dan faktor. Perhatian terhadap cerita rakyat seakan jadi urusan untuk peneliti, dosen, sastrawan, seniman, dan budayawan dengan misi penyelamatkan secara dokumentatif.
Masyarakat Jawa yang tidak tahu atau lupa atas cerita rakyatnya sendiri tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan. Tragedi kultural itu tidak bisa dipisahkan dari arus modernitas dan kecenderungan kosmopolitanisme. Masyarakat berhak memiliki pelbagai kiblat dan orientasi kultural melalui cerita rakyat. Menikmati pola hidup kosmopolitan atau menjalankan nilai-nilai kemodernan adalah bentuk pilihan-pilihan yang cenderung dipercayai banyak orang. Cerita rakyat barangkali sekadar dianggap sebagai mitos lama, khayalan klise, fantasi, atau dongeng yang ketinggalan zaman.
Keberadaan cerita rakyat adalah bukti dinamisasi peradaban manusia dalam rekonstruksi masa lalu dan pembayangan masa depan. Apresiasi terhadap cerita rakyat menjadi bekal untuk transformasi sosial-kultural yang berasal dari sisi internal masyarakat. Cerita rakyat pun berhak mengalami transformasi bentuk dan tafsiran nilai sesuai dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.

perempuan dan surga


Perempuan itu datang dengan gontai dari arah lorong gang sempit itu. berjalan sendirian sambil menenteng tas besar yang memang selalu menemaninya. tas itu barangkali sudah seperti lemari baginya. tas besar yang berisi handuk kecil,sikat gigi, bedak, lipstick, pelembab kulit,pelembab bibir, buku bacaan, agenda, alat tulis dan barangkali juga barang-barang yang sudah cukup lama berada disitu tanpa disadarinya. dengan celana jeans belel dan kaos oblong yang mungkin terlalu kekecilan tapi menurutnya cukup seksi. dia melangkah dan berhenti disebuah rumah, menekan bel dan wajah seorang laki-laki muda muncul, melihatnya dari jendela. ” sebentar.. aku ambil kunci dulu.” katanya. kemudian dia menghilang dari kaca jendela itu. perempuan itu hanya memandanginya. tanpa reaksi apa-apa. beberapa detik kemudian terdengar suara gerendel pintu yang kuncinya dibuka. perempuan itu masuk kedalam rumah dan berjalan terus. menaiki tangga tanpa memperdulikan laki-laki tadi yang telah membukakan pintu untuknya. setelah sampai lantai dua dia langsung saja bergegas menuju salah satu kamar yang berada di ujung. laki-laki tadi mengikutinya dari belakang, sepertinya juga tidak memperdulikan kalau perempuan tadi hanya terdiam. perempuan itu mulai meletakkan tasnya di lantai kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. mengambil buku bacaan dan agenda dari tas besarnya, meletaknya di atas tempat tidur kemudian mulai membaca. kelihatan sekali dia gelisah, bahkan dia hanya membolak-balik buku yang dibacanya. laki-laki tadi masuk ke kamar itu juga, melihat perempuan itu dan menanyakan, ” dari mana kamu?”
perempuan itu memandang laki-laki itu dengan tanpa ekspresi, ” kampus….” lalu dia kembali terdiam. karena melihat perempuan itu terdiam dan tak memperdulikannya maka laki-laki itupun beralih dan mengambil ponselnya. menekan-nekan tombol-tombolnya.
cukup lama mereka saling diam. tiba-tiba perempuan itu membuka pembicaraan. ” apakah aku berubah? maksudku dibandingkan dengan pertama kita ketemu…. apakah kau merasakan ada perubahan padaku?”
” kenapa? kenapa tiba-tiba kau menjadi melankolis? kau tak apa-apa? bertemu dengan siapa di kampus sampe membuatmu jadi begini? hehehe…” dengan setengah becanda laki-laki itu menjawab.
” hem…. beberapa anak-anak bilang padaku. aku berubah. menurutmu begitu? jika ya… seperti apa? lebih baik kah or buruk? lebih buruk ya?” dengan nada suara yang tak seberapa yakin dia mau mendengar jawaban laki-laki itu.
dan laki-laki itu menjawab dengan santainya,” ya.. kau memang berubah. menurutku kau berubah tidak lebih baik. kau lebih tak stabil sekarang……. ada apa? pasti ada sesuatu yang membuatmu berpikir begini. ketemu siapa di kampus? hah..?”
tiba-tiba perempuan itu menangis. dia masih di atas tempat tidur tempat laki-laki itu dan hanya menangis. laki-laki itu hanya memandangnya dengan berbagai pertanyaan di otaknya.
kemudian perempuan itu duduk dan menatap laki-laki itu, ” bisakah kita mengeluarkan rahim dari tubuh kita? meskipun kita tahu bahwa nothing wrong with it?”
dengan sedikit tersenyum laki-laki itu menjawab pertanyaan yang baginya lucu,” kenapa? apakah kau ingin supaya tidak hamil? menghindari kehamilan?…hahaha.. apa maksudmu? ati-ati dengan pertanyaanmu itu. aneh-aneh saja!”
laki-laki itu kemudian bangkit dari tempatnya duduk. dia keluar ke kamar mandi. perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. dia terdiam sebentar, sebuah pisau lipat sudah ada dalam genggamannya. tangannya meraba-raba perutnya. tepat di perut bawah bagian kanan dia menancapkan pisau itu, dia meringis. dengan sekuat tenaga ditariknya pisau itu kembali, kali ini tiba-tiba air mata menetes dari kedua matanya. darah mengalir deras membasahi lantai dan tempat tidur. dengan terlentang ditancapkan pisau yang sama pada perut bawah bagian kiri. kali ini dia menjerit cukup keras. mendengar suara jeritan dari kamarnya laki-laki itu langsung berlari menuju kamar. dia kaget mendapati perempuan itu yang terlentang di atas tempat tidurnya dengan berlumuran darah. “apa yang terjadi? apa yang kau lakukan?..”
” semuanya….. akan baik-baik saja, sekarang aku tak harus membawa surga kemana-mana…. karena aku …… memang tak pantas…. ya, aku memang tak pantas….” kata-kata itu keluar dari mulutnya yang tersenyum lega.



nah ini tulisan saya kurang lebih 9 tahun yang lalu.. ide gila tentang keinginan membuang rahim saya. ya.. ide gila seperti inilah yang sudah hilang dalam otak saya. ah.. kemana ide2 gila itu.. ide-ide gila yang tidak ada kaitannya dengan duit.