Friday, February 06, 2009

PERMAINAN MENGHITUNG KEMBANG API

aku suka sekali melihat kembang api. ini dimulai ketika aku menikahi hujan sekitar setengah abad yang lalu. mereka datang padaku, yah…anak-anak itu. mereka memergokiku bercumbu dengan hujan di tengah taman. kemudian mereka menarik tanganku dan membawaku pergi begitu saja. mengajakku berlari ke segala arah. anehnya saat itu aku menurut saja. aku lupa bahwa aku telah meninggalkan hujan terkapar di tengah taman.
aku tertawa, dan bermain dengan anak-anak itu. aku total hilang arah. setelah kami berlari-lari meloncat-loncat kesana kemari, tertawa, kemudian kami melakukan sebuah permainan. permainan itu kusebut sebagai "menghitung kembang api". caranya kami berebut mengambil kembang api yang tersebar di segala arah, siapa yang mendapatkan 100 kembang api paling cepat maka ia yang berhak menyalakan kembang api itu. ia boleh menyalakan kembang api itu satu persatu dan kami mengitarinya sambil bernyanyi, melompat-lompat, menari dan tentu saja tertawa. sungguh aku sangat senang melihat percikan api dan suara yang diciptakannya. membuatku dadaku serasa ingin meledak karenanya. Aneh, padahal permainan itu kami lakukan di siang hari.
sejak saat itu aku senang melihat kembang api. setelah kami bermain sesiangan itu, anak-anak itu tiba-tiba menghilang. baru kuingat kemudian hujan yang terkapar di tengah taman. secepatnya saja aku berlari menuju taman, tapi aku lupa jalan menuju taman. aku tadi terlalu asyik bersama anak-anak itu sampai tak memperhatikan jalan yang telah kami tempuh. aku terus berlari mencari jalan kembali setelah beberapa kali tersesat, aku sampai pada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di tepi jurang. kusandarkan tubuhku pada pohon itu dan kudapati diriku putus asa dan malam telah menawarkan kopi pahitnya.
terbayang kembali kenapa kunikahi hujan. ehm…sebenarnya alasannya sederhana, karena dia menarik dan selalu membuatku penasaran. saat tengah asyik melamunkan hujan sebuah tangan yang sangat halus menarikku. dia menuntunku dan aku hanya terpaku mengagumi betapa halus tangan itu. beberapa langkah saja, ia kemudian berhenti dan kami sudah berada di tengah taman. kulihat hujan hampir berwarna ungu karena merindukanku. kuhampiri dia, lalu kurengkuh dia dalam pelukanku. dia memelukku dengan eratnya dan tak mau melepaskanku, berangsur-angsur ia pulih kembali. tanpa tahu ternyata tangan halus itu telah berada dikepalaku membelai dengan halus rambutku. saat itulah aku bermandikan air hujan, memahaminya dan aku mencintainya. kemudian tangan itu menghilang begitu saja seperti juga kedatangannya.
sudah setengah abad aku menikahi hujan, aku memang sangat mencintainya tapi tawa anak-anak itu masih sering kudengar di siang hari, barangkali mereka bermain menghitung kembang api bersama orang lain pikirku. sebenarnya aku juga masih sering bermain dengan mereka, tapi kulakukan ketika malam hari. ternyata permainan itu lebih menyenangkan dilakukan di malam hari karena cahaya yang dihasilkan kembang api lebih indah dan suaranya lebih mengejutkan kita , tentu saja karena malam hari lebih sunyi. bukan itu saja, yang paling utama dari menyalakan kembang api di malam hari adalah bukan cuman tawa riang yang ada tetapi juga warna gelap paling sempurna, kesunyian tiba-tiba kemudian kita akan memahami segalanya…

surabaya, 01 agustus 05 (03:53)
barang lama.... ga bisa nulis sekarang!!!!!

d dead of d season

hari ini akhirnya aku benar-benar menikmati hujan entah yang ke berapa pada musim kemarauku. hujan ini memberiku ketenangan. kemenangan!
dear my love,
kau tau, eku tlah mati sekitar tiga setengah tahun yang lalu. tubuhku sudah tak lagi kukenali.belatung, ular, kalajengking, bahkan srigala juga ikut mencabik-cabiknya. kemudian melahapnya dengan rakus. kau ingat waktu itu? waktu kau bunuh aku dengan pisau yang entah kau dapat darimana. kau paksa rohku keluar dari ragaku. seketika itu tubuhkupun membiru. sejak saat itu demi setiap bagian tubuhku yang dimakan belatung dan hewan-hewan lain itu, aku bersumpah bahwa kau akan kubunuh. pasti!
3,5 tahun aku mencoba membunuhmu. kukorbankan jiwaku pada iblis-iblis paling jahanam. aku rela menjadi arwah gentayangan, hanya untuk satu tujuan. membunuhmu……ya membunuhmu!
rasa sakit menyelimuti arwahku ketika aku gagal dan gagal lagi untuk membunuhmu. tapi rasa sakit itu semakin parah ketika aku mencoba melupakan usahaku untuk membunuhmu.
oh ya….aku pernah suatau hari berjumpa denganmu, kalau tak salah ketika kau berziarah entah ke kubur siapa. saat itu kau masih saja menenteng pisau itu. pisau yang dengan serta merta kau gunakan untuk membunuhku. pada pertemuan itu, ku berikan kau bau apel busuk yang membiru dan decit ranjang kosong kita. tapi aku masih saja tak sanggup membunuhmu. itu sebabnya kau tancapkan lagi pisau itu ke kuburku.
hari ini aku baru bisa menikmati hujan yang turun dikuburku setelah musim-musim kemarauku yang tak usai-usai.
oh my dear love, aku baru tau ternyata dulu aku sempat hampir membuatmu terbunuh, dulu. ketika kau tinggalkan pisau itu dikuburku….tlah ku bisikkan padanya bahwa kau masih mempunyai sebuah senapan dipunggungmu dan senapan itu adalah senjata andalanmu. rupanya ketika dia kembali kepadamu dan kalian berlatih bersama, dia telah memotong urat nadimu. kau jatuh pingsan bukan saat itu? sebelum akhirnya orang-orang didekat taman itu menolongmu. betapa bodohnya aku karena baru sebulan yang lalu aku tau berita itu, tapi tak apalah karena sampai sekarang masih bisa membuatku tersipu.
seminggu yang lalu, kau berziarah lagi kekuburku. kujamu kau masih dengan apel yang membiru. kusebarkan bau busuk paling busuk disekitar kuburku. itu juga tak cukup membunuhmu.
oh my dear love, forgive me….
hari ini aku baru bisa menikmati hujan. ha..ha..ha… rupanya pisaumu tak suka bau busuk dikuburku..oh malah dia tak suka kau berziarah ke kuburku! dan oh baby…..dia menancapkan dirinya tepat diulu hatimu. bagian yang terburuk adalah aku ta melihat kejadian itu! aku terlalu sibuk membuat bau busuk untukmu.
my dear love, hari ini hujan sungguh tenang. ‘kemenangan!’
kau telah mati. mungkin bukan oleh tanganku tapi setidaknya itu cukup terasa manis untukku. wel….cukup sudah untuk musim ini. kutunggu kau dimusim berikutnya, my love….
ha…ha…ha….