Saturday, December 27, 2008


sudah lama aku tidak mengupdate blog ini. karena memang lupa passwordnya.
abru baca blogs temen-temen. lumayan menggelitik untuk mengupdate blog. ga mau kalah.
langsung aja kali ye..
“ Aku hanya ingin seorang anak… tak lebih. Apakah aku harus memintanya dari lelaki lain?... aku tak ingin… aku hanya ingin anak darimu, bukan dari lelaki lain…. “ Dewi menjelaskan dengan tersedu dan kepalanya menunduk.
“ Aku tak bisa… aku tak bisa punya anak denganmu… bukan berarti aku tak mau… aku hanya tak bisa…” suara Ipang merendah juga, berusaha untuk menenangkan Dewi. Dilihatnya Dewi yang bersimpuh dihadapannya, dia tak tahu harus bagaimana lagi menjawab keinginan perempuan itu.
“ Aku tak akan menuntutmu untuk menikahiku… aku juga tak akan menuntutmu untuk menghidupi kami nanti. Dia akan jadi anakku… dan hanya anakku tak akan pernah menjadi anakmu…. Ku berikan janjiku…. Setelah itu kau boleh pergi… boleh kembali pada istrimu atau kemana sajalah kau mau. Yang kuinginkan hanya mempunyai anak dari lelaki yang kucintai…. Tak lain dari itu..” Dewi masih saja tertunduk, tangisnya semakin jelas terdengar. Ipang sedikit bertambah panik, di dekatinya Dewi kemudian tangannya meraih wajah Dewi mencoba menengahkannya.
“ Sayang,…. Aku tak bisa…. Sungguh…. Cobalah pahami aku… aku sudah membuat janji dengan istriku. Aku tak akan pernah mempunyai anak dari perempuan lain, meskipun dia tahu bahwa aku selingkuh. Sayang,… lupakan saja soal keinginan punya anak. Kita akan selalu bersama. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji…”
“ Sampai berapa lama? Aku ingin hidup selamanya… apakah kau akan menemaniku selama itu? Bagaimana dengan istrimu? Anakmu? Apakah kau juga mengatakan hal itu pada mereka? Bahwa kau akan menemani mereka selamanya? Bullshit… I won’t buy that!”
“ Lalu kau ingin aku berbuat apa?... aku tak bisa menceraikan dia, aku masih mencintai dia dan aku juga mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dia sama dengan ak tak ingin kehilanganmu. Jangan memberiku pilihan yang begitu susah. Aku bisa meledak nanti…. Ah.. begini saja….ok akan kuberikan kau anak… sekarang bisakah kita tidur? Aku harus bangun pagi besok.” Berlahan Ipang menjalan mendekati tempat tidur. Dibaringkan tubuhnya yang memang sudah terasa sangat lelah. Dewi yang dari tadi bersimpuh di samping tempat tidur mulai bergerak ke ranjang, menata bantal dan selimutnya kemudian berkata, “ selamat tidur sayang….”


ini tulisan sedikit, awalnya sih pengen dijadikan salah satu bab dalam novel. tapi ga selesai novelnya. ga konsen.

No comments: