Friday, August 04, 2006

Cinta Mengejarku
sebuah sajak Rumi

Semalam aku mabuk tergila-gila,
cinta mengejarku dan berseru:
"Aku datang padamu, jangan bersorak,
jangan basahi baju dengan air mata,
dan jangan lagi bicara."

O, cinta!" kataku: Aku takutkan lainnya."

"Tak ada yang lain," katanya: "jangan bicara lagi.
Akan kubisikkan kata-kata tersembunyi ke telingamu;
Mengangguklah setuju! Dalam rahasia, jangan lagi bicara!"


Jiwa yang Tercekau

Sajak Pablo Neruda



Kita tersesat bahkan di senja ini.
Tak ada yang tahu: malam kita berpegangan,
sementara dunia dikepung warna biru.

Ada nampak lewat jendelaku
Semarak matahari jatuh di puncak gunung jauh.

Sesekali tampak sepotong cahaya
terbakar seperti keping di genggaman.

Aku terkenang engkau, hati tercekau
dalam duka itu, dukaku itu, engkau tahu.

Lalu engkau, dimanakah?
Lalu di sana itu, siapakah?
Lalu yang disebutnya, apakah?
Kenapa saat segenap cinta tiba tiba-tiba
saat itu duka meraja dan kurasa engkau jauh disana?

Buku tersia senantiasa tak terbuka saat senja tiba
dan sweater biruku teronggok: simpuh anjing luka.

Selalu, selalu saja engkau menyusut melintasi malam
melewati senja, gelap yang menelan patung-patung.