Friday, April 14, 2006

aku ta sudi memberi judul

surat itu datang padaku. seperti anak kecil yang lugu...ia melompat-lompat kegirangan ketika kurangkul, hampir saja terlepas dari tanganku. surat itu begitu wangi, barangkali itu juga yang menarik perhatianku dan sungguh bukan karena warnanya yang bagus. aku melihatnya pertama kali ketika kami sedang bersama dengan bintang-bintang rak buku di sebuah trotoar malam. ia begitu pendiam tak seperti yang lain yang selalu mencolok seperti buku. ia hanyalah sebuah surat dengan beberapa lembar tulisan tinta warna merah seakan-akan melarangku untuk mendekatinya. toh akhirnya kudekati dia, kemudian menyapanya dengan sebuah bayangan ibu dalam genggamanku. ia langsung saja menerimanya...terpana dan mulai membauiku. tapi sungguh saat itu aku hanya ingin ingin menyapanya. tak ada maksud tertentu. setelah kejadian di trotoar itu aku menghilang begitu saja.

perjumpaan kembali muncul ketika ia memasuki sebuah gudang tempat sayap-sayapku berkumpul. gudang itu juga biasa kujadikan tempat peristirahatan dan tempat belajar mengenal arti sebuah senyuman masam. setelah aku tau ternyata dia berniat bergabung dengan sayap-sayapku di gudang itu. aku pun menyambutnya dengan sedikit senyum masam yang belum kumengerti. ia kemudian akrab dengan sayap-sayapku. yah akhirnya pun kami jadi lebih akrab dari sebelumnya, tapi masih belum bisa dikatakan akrab. emmm...sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya saat itu. tapi sudah kebiasaan aku ta pernah bisa menolak sebuah tulisan yang ada didepanku. barangkali kesalahanku karena suka membaca catatan orang lain, sampai suatu ketika aku ta sengaja menghapalkan tulisan pada surat itu.

aku tak tau sejak kapan permusuhan itu dimulai, tapi aku memahami bahwa kita semua memang selalu ingin berperang bukan? begitu juga dengannya. setelah sebelumnya kami saling bercerita tentang ranjang dalam gudang dan juga ranjang-ranjang masa lalunya. bahkan kami sering sarapan pagi bareng. tiba-tiba dia muncul hari itu sambil mengencingi sudut-sudut ranjangnya, ketika aku bahkan tak ada niatan untuk menidurinya. malam-malBluered_hair_1am setelah itu, kami sibuk dengan obrolan tentang dada " ini dadaku, mana dadamu?!" katanya. agh...barangkali aku yang selalu lupa kutaruh mana dadaku, itu sebabnya aku tak pernah menunjukkan dadaku. dan ya aku memang kalah, mari kita mengenangnya sebagai malam tanpa gairah. baru berapa hari yang lalu akhirnya aku bertemu dengannya. ehm...kurasa dia keliatan lebih kurus. beberapa kalimat dengan tinta merah yang seakan-akan melarangku untuk mendekatinya hilang. berganti dengan warna yang aku bahkan tak tau bagaimana mendeskripsikannya. kukira dia cukup ramah. barangkali aku menikmatinya dengan berlebih tapi itu bukan berarti perang sudah kehilangan maknanya. ah sudahlah...aku sudah kehabisan pasir sebagai penunjuk waktu. aku harus pulang.

April 12, 2006 |

No comments: