Saturday, March 25, 2006

sekedar nitip



bermain rembulan

airmata rembulan kita pernah rangkai
dan anak-anak kabut membawanya pergi

tak lama setelah kita
mulai membakar ayat-ayat metropolitan
yang memang tak pernah ramah

kakang,
sungguh perih bermain rembulan
menjinjing,menjahit, memola,
menggunting dan tiba-tiba
sajadah kita terbanting

kakang,
aku memang tak jujur meminangmu
tapi bukankah kukawini kau
dengan maskawin batangan kilat ngilu

beberapa hari setelah itu
kutebus dengan darahku

mungkin kini hanya sunyi
maka buanglah rahimku


yang sekarat minta susu
biarkan saja, barangkali
rintihannya akan bermimpi tentang bayi.


nyanyian laut

pada kail yang sama
kau mancing butiran pasir apel
berumpan mata pisau
kitapun tenggelam dalam ombak
keringat dada deburan antara foto hitam putih

nelayan yang pulang sore ini
adalah pemburu lanskap
itu sebabnya kita harus tetap terjaga

kakang,
maafkan aku selalu
terbakar serapah matahari. masa lalu
telah kutelan lautanmu terkait rembulan

tapi rembulan selalu datang melintasi malam
itu sebabnya kubuang jangkarku
berharap insang rahimku akan membunuhmu
hingga hanya tinggal jejak kakimu

ah...barangkali kau tak
seharusnya bertemu dengan pantaiku.

No comments: